Lomba Menulis Kisah Inspirasi "Aku dan Sepatuku" (Noura Books)


Aira dan Sepatunya
Oleh: Cynthia Kwesnady


Sebut saja namanya Aira. Ia salah satu teman sekelas saya di SMA. Dari dulu saya selalu mengaguminya karena kemandiriannya yang luar biasa, terutama di kalangan pelajar sekolah swasta seperti kami ini. Mengingat bahwa ia terbiasa diandalkan oleh seluruh anggota keluarganya dalam hal urusan rumah tangga seperti mencuci, menyapu, mengepel, dan lainnya, wajar saja kemandiriannya itu ia peroleh.


Menabung pun bukanlah sesuatu yang baru baginya. Dibandingkan kami, teman-teman sekelasnya, ia adalah orang yang paling sering membeli segala sesuatu dengan hasil tabungan uang sakunya sehari-hari. Tidak jarang kami melihatnya menahan rasa lapar pada saat istirahat demi menyisihkan uang sakunya untuk ditabung. Tak terkecuali pada saat ia ingin membeli sebuah sepatu baru. Sepatu kets dengan paduan warna ungu dan hitam dengan tali berwarna putih itu sudah sering kali menjadi pusat perhatiannya ketika kami berjalan-jalan ke sebuah toko di dalam sebuah mall dekat perumahan tempat kami tinggal.


Selang beberapa bulan, akhirnya ia berhasil mengumpulkan uang dan membeli sepatu tersebut. Keesokan harinya, tentu saja kami menyadari bahwa ia menggunakan sepatu yang telah menjadi idamannya selama berbulan-bulan itu. Senyum bahagia terukir jelas di bibirnya, hampir tiada henti.


Namun seminggu kemudian, kami mendapati bahwa ia tidak lagi menggunakan sepatu barunya itu ke sekolah. Ketika kami menanyakannya, sambil meringis ia menjawab bahwa sepatu barunya itu ternyata kurang kuat dan dalam waktu singkat sudah harus diperbaiki. Lagipula, ia menambahkan, sepatu lamanya telah begitu sesuai dengan irama langkah kakinya, menemani setiap aktivitasnya selama ini. Ia seakan baru tersadar arti pentingnya sepatu lamanya itu.


Siapa sangka kalau ternyata sepatu lama-nya-lah yang berhasil membuat kedua kakinya nyaman selama bertahun-tahun dipakai dan sekaligus memenangkan hatinya kembali?


Dari cerita ini saya mendapat sebuah pembelajaran bahwa sesuatu yang selama ini menjadi keinginan kita belum tentu sesuai dan berjalan mulus seperti apa yang kita inginkan. Ada beberapa hal yang lebih baik bila tetap dibiarkan seperti apa adanya. Seperti contohnya sepatu lama Aira yang ternyata telah membekas dan meninggalkan segudang kenangan di memori Aira serta lebih kuat dan mampu bertahan lebih lama dibandingkan sebuah sepatu baru yang telah diidam-idamkan Aira sejak lama.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ramuan Alami Penyegar Mata

Kisah Pemuda dan Semangkuk Nasi Putih

Pengalaman Internship di PT XL Axiata Tbk (Talk and Tips)