Cerita Pelayanan Ibadah Anak #1
Minggu kemarin, seperti luar biasanya, saya kembali menjadi pelayan di Ibadah anak :D
Kali ini saya melayani di kelas Pratama 3 dan kembali berkenalan dengan wajah-wajah baru. I should say that this year I really met a lot of new faces :)
Dan seperti kebiasaan saya sejak awal mula melayani di tiap kelas baru, saya mencoba untuk memaksimalkan waktu yang ada untuk berkenalan kepada setiap anak sebelum jam ibadah dimulai.
Biasanya saya mulai dengan mengucapkan salam "Shaloom" sambil berjabatan tangan dan memperkenalkan nama saya. Pada saat yang bersamaan itu pula saya berusaha untuk mengingat nama-nama setiap dari anak-anak. Luckily, I'm a person who can remember a lot of names easily :D
Dan bukan anak-anak namanya kalau saya pulang tanpa membawa cerita baru setelah melayani di setiap minggunya :D
Seorang gadis cilik dengan potongan rambut pendek yang manis dengan cerianya bertanya kepada saya tentang satu pertanyaan yang kerapkali ditanyakan oleh anak-anak di kelas manapun saya mengajar.
Ya. Sebuah pertanyaan yang dapat diibaratkan sebagai FAQ (Frequently Asked Questions).
Dan kalau Anda bertanya-tanya pertanyaan apakah itu, saya pikir Anda akan terkejut mengetahui apa FAQ yang sering menjadi lontaran pertanyaan anak-anak manis tersebut.
Pertanyaan itu ditanyakan dengan ringan. Tanpa paksaan. Namun cukup dibebani dengan rasa ingin tahu mereka yang besar. Bunyinya pun sederhana... Sesederhana ini.....
"Kak, Kakak udah punya pacar belum?"
Sulit dipercaya? :p
Bayangkan reaksi saya ketika pertama kalinya saya harus menjawab pertanyaan itu di hadapan begitu banyak pasang mata bening yang memancarkan kesungguhan mereka dalam bertanya :))
Anyway, karena pada minggu kemarin bukanlah pertama kalinya saya dicecar oleh pertanyaan seperti itu, saya cukup siap dengan jawaban mengelak saya yang super mengecoh seperti biasanya. Tentunya tak lupa saya keluarkan jurus andalan saya: senyum paten yang kerap kali saya gunakan dalam menghadapi situasi-situasi khusus :p
"Emangnya kenapa kamu kok nanya gitu?"
"Ngga papa sih, nanya aja, Kak. Kalo punya pacar, ati-ati aja. Nanti diambil."
"Loh kok diambil?"
"Iya. Soalnya pacarku aja diambil sama temenku."
"......"
:'')
Rasanya semua campur aduk waktu saya mendengarkan cerita singkat gadis cilik yang baru duduk di kelas 3 SD itu tentang insiden dia dan "cinta monyet" segitiganya yang dia utarakan secara gamblang.
However, saya sendiri merasa prihatin dengan cerita anak sekolah minggu saya itu. Bukan karena proses "pengambilan" pacarnya pastinya, tapi saya menyayangkan generasi anak-anak zaman sekarang yang terlalu termakan oleh pemberitaan dan terpaan media yang membentuk pola pikir mereka menjadi sedemikian rupa.
Karena itulah menurut saya penting sekali peran orang-orang terdekat mereka untuk menjadi tempat mengadu dan tempat bercerita ketika mereka sedang ingin menumpahkan perasaaan dan pikiran mereka.
And I really hope I could be one from many options to be their trusted people when they want to share anything .
P.S:
Tentunya, di penghujung cerita "cinta monyet" anak sekolah minggu saya iitu, saya juga menyelipkan pesan moril untuk tidak lagi menjalin hubungan spesial dengan teman-teman pria-nya selain pertemanan dan persahabatan biasa :)
Komentar
Posting Komentar