Cerita Pelayanan Ibadah Anak #2: Christian & Jesslyn
Post pertama saya yang diberi judul sama dan hanya berbeda angka seri saya tulis pada awal bulan September. Dan tiba-tiba saja bulan September kini sudah hampir berakhir di depan mata. Time really flies!
Anyway, meski post kedua yang baru saya tulis ini ada di akhir September, bukan berarti selama minggu-minggu sebelumnya saya tidak mengalami sebuah (atau bahkan beberapa) kejadian seru dan menarik selama melayani di Ibadah Anak.
Saya harus katakan di setiap minggunya, pelayanan yang saya lakukan di Ibadah Anak selalu mempunyai cerita tersendiri. Beragam kejadian-kejadian tersebut dapat diibaratkan sebagai sebuah film yang akan selalu menjadi film yang tidak tertebak alur ceritanya. Warna warni kejadian di Ibadah Anak mulai dari yang menjengkelkan, mengagetkan, lucu, menggemaskan, sampai kejadian yang manis seperti yang baru saja terjadi hari ini :)
Cerita bermula ketika saya selesai membawakan firman Tuhan dan seperti biasa anak-anak tersebut diberi ayat hapalan yang harus dihapalkan kepada saya.
Karena di kelas Pratama 1 dan Pratama 2 tadi (kebetulan kelasnya kelas gabungan) hanya ada dua kakak yang mengajar, maka saya dan rekan saya bergantian membantu anak-anak menghapalkan ayat hapalan tersebut.
Jumlah anak yang banyak tentunya membuat saya dan rekan saya cukup kewalahan dengan beberapa anak yang kepribadiannya cenderung aktif. Terlebih ketika saya dan rekan saya tengah fokus kepada beberapa anak yang mengantri untuk menghapal ayat.
Ketika saya melihat Jesslyn, pipinya sudah bersimbah air mata. Terkejut, saya langsung menghampirinya setelah meminta anak-anak yang lain untuk melanjutkan ayat hapalan mereka secara mandiri terlebih dahulu.
Setelah ditelusuri, ternyata tangisan Jesslyn disebabkan oleh keisengan tingkah laku anak-anak seperti umumnya yang kebetulan dilakukan oleh salah seorang anak sekolah minggu yang bernama Christian.
Singkat cerita, saya mendatangi Christian yang saat itu tengah duduk bersama dua orang temannya. Maka terjadilah dialog seperti ini:
Saya : Christian, kamu tau ngga Jesslyn nangis?
Christian: Tau, kak.
Saya : Kalau Mama kamu dibikin nangis gitu, kamu mau ngga?
Christian : *menggelengkan kepala*
Saya : Mau ngga kamu minta maaf sama Jesslyn? Bukan soal siapa yang bener atau yang
salah. Tapi kalau kamu bikin temen kamu nangis, kamu harusnya minta maaf kan?
Apalagi Jesslyn anak perempuan.. Ya ngga?
Dan yang buat saya salut, ngga butuh bujuk rayu lebih lama atau ucapan-ucapan dorongan kedua kalinya untuk membuat kedua kaki Christian bangkit berdiri dari tempat duduknya dan menghampiri Jesslyn yang masih menangis sambil mengulurkan tangan dan meminta maaf dengan tulus.
Dan lagi-lagi dari kejadian kecil ini saya belajar. Ya, saya harus akui bahwa saya belajar cukup banyak selama menjadi pelayan Tuhan di Ibadah Anak dalam kurun waktu setahun belakangan ini.
Seringkali kita yang notabene sudah mengaku anak Tuhan, ikut KKR Pemulihan, HMC, dan yang lainnya masih sulit memaafkan.
Bandingkan dengan hati seorang anak kecil yang kasihnya masih dipenuhi oleh kasih Tuhan sehingga bisa memaafkan dengan begitu mudahnya.
Saya jadi teringat satu buah lagu yang kebetulan juga tadi dinyanyikan di Ibadah Umum. Sebuah lagu dari Matt Redman yang berjudul "The Heart of Worship".
I'm coming back to the heart of worship
and its all about You, its all about You, Jesus.
I'm sorry, Lord, for the thing I've made it
when its all about You, its all about You, Jesus.
Terkadang anak-anak kecil mengajarkan kita tentang arti mengasihi yang sesungguhnya. Kasih mula-mulanya Tuhan yang ngga tercampur dengan kedagingan kita.
Sayangnya, sebagai manusia yang beranjak dewasa, seringkali kedagingan kita menang. Melalui kejadian ini saya kembali diingatkan kepada pemikiran yang benar dimana semuanya yang kita lakukan seharusnya semuanya untuk Tuhan. Bukan untuk yang lain.
Aaaaaaaa how blessed I am to be the witness of children's sincerity :))
So proud of both of you, Christian and Jesslyn! ♥
Komentar
Posting Komentar