Cerita Pelayanan Ibadah Anak #5: Belajar Memberi

#LatePost 

Menjelang KKR Natal Anak yang akan dilangsungkan tanggal 21 Desember 2013 nanti, kelas 4-5-6 mempunyai project khusus.

Minggu lalu, yaitu tanggal 8 Desember 2013 mereka diminta untuk membawa sebuah kotak sepatu kosong.
Kotak sepatu itu nantinya akan dihias dengan menggunakan kertas kado yang telah disediakan sehingga tampilannya akan menjadi jauh lebih cantik.
Bukan cuma hiasan luarnya, namun untuk setiap anak yang INGIN belajar memberi (dan tentunya mendapat dukungan maupun persetujuan dari orangtuanya), mereka diminta untuk membawa berbagai macam barang dan perlengkapan yang dipakai dalam kehidupan sehari-hari seperti sabun, odol, sikat gigi, makanan ringan, dan lainnya dengan range harga dua puluh sampai dengan dua puluh lima ribu rupiah.

Tepat pada hari ini, yaitu tanggal 15 Desember, seluruh anak yang berpartisipasi membagikan bingkisan mereka kepada cleaning service dan security yang bertugas di Mal Matahari Daan Mogot.

Dari 72 anak yang hadir pada hari ini terkumpul 47 bingkisan yang berisi berbagai macam barang yang diharapkan dapat menjadi berkat bagi setiap Bapak/ Ibu yang mendapatkannya.

Lagi-lagi, dari Ibadah Anak saya belajar sesuatu hari ini.

Karena pada awalnya semua bingkisan dikumpulkan ke depan untuk dihitung, pada saat pembagian bingkisan, anak-anak tidak memegang bingkisan yang mereka miliki, melainkan milik teman mereka.
Para kakak pelayan Ibadah Anak yang bertugas jam 9 yang terdiri dari saya, Kak Christine, Kak Edy, dan Kak Okta, berusaha sedapat mungkin untuk mengatur lalu lintas anak untuk mengambil bingkisan dan menyerahkannya kepada Bapak/ Ibu yang telah menunggu di depan ruang Ibadah Anak.
Tentunya kami hanya memberikan privilege untuk memberikan bingkisan kepada Bapak/ Ibu tersebut kepada anak-anak yang memang telah menyiapkan bingkisan mereka.
Namun, beberapa dari 25 anak yang tidak membawa bingkisan telah terlebih dahulu mengambil privilege tersebut dari anak yang sebetulnya memiliki wewenang yang sesungguhnya.
Hal ini akibatnya menimbulkan sedikit kekacauan karena anak-anak yang benar-benar membawa bingkisan pada akhirnya tidak memiliki bingkisan untuk diberikan.

Seorang anak yang kira-kira masih duduk di kelas dua atau tiga SD namun bergabung di kelas 4-5-6 karena tidak ingin dipisahkan dengan kakak laki-lakinya lantas menangis karena dia tidak dapat memberikan bingkisan tersebut secara langsung.

Kami pun bertindak cepat dengan membeberkan cerita yang ada kepada seluruh anak-anak yang ada di kelas.
Puji Tuhan, beberapa dari anak-anak kelas 6 masih memegang bingkisan mereka dan belum memberikan bingkisan tersebut.
Kami melemparkan sebuah pertanyaan kepada mereka semua jikalau ada dari mereka yang tidak keberatan untuk menyerahkan privilege memberikan bingkisan dari tangan mereka langsung kepada adik kecil tersebut.

Dan yang membuat saya belajar hari ini adalah, beberapa tangan teracung tinggi.

Mereka, yang notabene, adalah anak-anak kecil yang biasanya tidak dapat dipisahkan dari acara-acara seru seperti penyerahan bingkisan secara langsung dari tangan mereka sendiri ini, mau belajar mengalah kepada seorang adik kecil.

Berapa banyak dari kita, yang secara fisiologis telah disebut sebagai orang dewasa, memiliki kebesaran hati seperti itu?
Berapa banyak dari kita yang ingin selalu tampak menonjol dan dianggap oleh orang-orang di luar sana?
Berapa banyak dari kita yang saling sikut untuk dapat menjadi yang nomor satu?

Seringkali ide kita dicuri dan diaku-aku sebagai milik mereka,
Atau ketika mimpi kita ada di depan mata, mampukah kita untuk belajar memberi kesempatan terlebih dahulu kepada orang lain?

Memberi, pada dasarnya dapat dilakukan melalui berbagai macam hal.
Dan tentunya tidak harus mutlak dilakukan dari tangan kita sendiri.
Karena yang terpenting sesungguhnya adalah hati kita sendiri.
Apakah hati kita telah memberi dengan tulus? Atau masih mengharapkan imbalan supaya "dilihat" oleh orang lain?

Kolose 3:23 

"Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah itu dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia."

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ramuan Alami Penyegar Mata

Kisah Pemuda dan Semangkuk Nasi Putih

Pengalaman Internship di PT XL Axiata Tbk (Talk and Tips)