Demokrasi. Sebuah kata yang mungkin tidak terdengar asing lagi di telinga kita karena demokrasi secara garis besar sudah kita dengar berpuluh-puluh, beribu-ribu, bahkan berjuta-juta kali sepanjang perjalanan hidup kita.

Namun apa yang selama ini kita pikir dan tanamkan dalam isi kepala kita adalah benar pengertian demokrasi yang sesungguhnya dan sejati? Atau kita hanya sekedar memahami demokrasi dengan demo atau unjuk rasa besar-besaran di depan gerbang lembaga-lembaga pemerintahan sebagai bukti konkrit dari demokrasi itu sendiri? Atau mungkin juga kita hanya memandang demokrasi sebagai cerminan pilihan sebuah keputusan yang didasarkan pada kehendak banyak orang? Come on, Guys! Democracy is more than it!

Democracy is choosing your own way.
Demokrasi berarti bebas. Kita berhak dan mampu memutuskan jalan yang akan kita pilih, tempuh, dan lalui. Demokrasi itu berarti tidak ada pihak-pihak yang akan mengekang setiap pilihan atau pemikiran kita. Semua tergantung pada diri kita sendiri.

Democracy is freedom of expression.
Demokrasi merupakan suatu alat atau media yang dipakai dan digunakan guna menyuarakan pendapat dan menyokong kebebasan kita dalam berekspresi (baik itu menulis, berbicara, melakukan sesuatu dan lain sebagainya).

Democracy is your choice for life.
Demokrasi memberikan peluang dan kesempatan untuk memilih jalan hidup yang kita inginkan. Apa yang ingin kita raih, apa yang kita cita-citakan, semuanya terjalin erat dengan makna demokrasi.

No democracy without tolerance.
Tapi demokrasi tidak akan ada dan tidak akan terwujud tanpa adanya toleransi antar sesama. Karena itulah kita harus menyatukan segala perbedaan yang ada untuk meraih demokrasi yang seyogyanya kita miliki.


Democracy is what we NEED.

Tak dapat disangkal, demokrasi sangat berperang penting dalam kehidupan kita sehari-hari. Bayangkan bila kita kita hidup di dalam dunia yang tanpa demokrasi. Hidup kita hanya akan “disetir” oleh sang penguasa dan kita harus menjalankan kehidupan kita dengan monoton sesuai dengan apa yang sang penguasa inginkan, tanpa adanya penyaluran kehendak pribadi dari dalam diri kita. Apa itu yang kita inginkan? Menjadi robot atau bahkan pemain dalam sebuah panggung sandiwara yang telah ter-script?? Tentu tidak. Setiap individu dari kita pasti ingin menyuarakan pendapatnya. Tidak ada orang yang tidak ingin didengarkan oleh orang lain.

Tapi kenyataannya? Apa kita sudah seratus persen menyuarakan demokrasi dalam diri kita? Mendemonstrasikan pemikiran-pemikiran, ide-ide,s erta gagasan-gagasan milik kita tanpa adanya pembatasan, cela, dan kekurangan? Apa kita sudah “sebebas” itu dalam berkarya?

Yang terjadi dalam dunia global saat ini malah merupakan kebalikan dari itu semua. Berapa banyak anggota parlianment yang jatuh dalam kasus penyuapan oleh pengusaha? Berapa banyak berita-berita miring tentang petinggi-petinggi negara yang dengan mudahnya tersingkir dari ranah perpolitikan negara Indonesia karena adanya koalisi antara pihak-pihak yang terlibat? Penggelapan uang bernilai milyaran bahkan triliunan juta rupiah seakan-akan tertutupi dengan baik, sementara kasus rakyat yang berasal dari golongan bawah mengalami proses yang panjang, berbelit-belit, dan bahkan menyulitkan.

Para petinggi-petinggi negara dapat dengan mudahnya bekerjasama dan keluar-masuk penjara dengan bebas seakan-akan hidup tanpa beban yang berarti. Sementara rakyat golongan bawah yang tidak mempunyai uang harus pasrah menerima nasib meringkuk di dalam jeruji penjara meskipun tingkat kejahatan mereka masih termasuk rendah.
Maling ayam dihukum dengan vonis beberapa tahun penjara sementara salah satu aktor utama yang diduga kuat dalam penggelapan uang dapat lolos dari jerat pidana. Sungguh suatu kenyataan yang ironis untuk dilihat dan dibandingkan!

Apa ini yang disebut dengan demokrasi? Dimana keadilan?? Dan mengapa demokrasi menjadi luntur seiring berjalannya waktu? Apakah demokrasi juga akan punah dan menghilang dari peredaran masyarakat? Apakah nanti anak-cucu kita tidak akan bisa mengenyam dan merasakan apa itu arti demokrasi yang sesungguhnya?

Demokrasi menjadi luntur lantaran adanya keterbatasan yang menjadi pagar dalam kebebasan kita. Demokrasi menjadi luntur lantaran ketidakseimbangan keadilan yang mengakibatkan ketimpangan pada rakyat dari golongan-golongan tertentu.
Demokrasi menjadi luntur lantaran adanya paham yang sudah terpatri dalam diri kita bahwa pilihan kita terbatas.

Lantas karena adanya berbagai macam alasan itu, apakah kita harus menyerah kalah?
Apa kita harus kembali ke awal permulaan kita dimana kita masih belum mengenal arti kata demokrasi itu sendiri?

Tidak!

Demokrasi ada bila kita mau berusaha keras mewujudkannya.
Demokrasi bisa kita wujudkan kembali bila kita mau bekerjasama.
Demokrasi bisa kita tampilkan lagi bila kita mau memberikan kesempatan bagi generasi-generasi muda yang ingin menyumbangsih bagi negeri dan bangsanya.
Demokrasi ada bila kita bersatu.

FIGHT + IMAGINE + CREATE = RESIST

HIDUP DEMOKRASI INDONESIA!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ramuan Alami Penyegar Mata

Kisah Pemuda dan Semangkuk Nasi Putih

Pengalaman Internship di PT XL Axiata Tbk (Talk and Tips)