Cerita Pelayanan Ibadah Anak #4: Metode Pengajaran
Seperti yang sudah saya sebutkan di post #2, jadwal mengajar saya tengah di-rolling yang berarti bila kemarin saya mengajar di kelas Pratama 1 dan 2, bulan ini saya mengajar di kelas lain. Hal ini membuat saya bertemu banyak anak-anak baru dengan karakter yang pastinya juga berbeda-beda.
Pada bulan Oktober ini, jadwal mengajar saya berada di kelas Pratama 3 dan 4. Dengan banyaknya kelas yang telah yang saya masuki selama ini, tanpa saya sadari saya telah melakukan perbandingan pada beberapa kelas.
Perbandingan yang terlihat nyata adalah kelas Pratama 3 dan 4 yang sangat pasif dalam melakukan pujian. Tentunya sebagai seorang Kakak sekolah minggu saya sendiri bertanya-tanya apa yang salah dan berusaha untuk meningkatkan antusiasme mereka dari minggu ke minggu. Puji Tuhan, tiga minggu berturut-turut dalam jadwal mengajar di kelas yang sama membuat saya dapat memaksimalkan waktu observasi saya.
Pada minggu ketiga, ketika jadwal saya untuk mengajar tiba, saya telah mencatat beberapa hal khusus yang dapat saya jadikan pegangan dalam mengajar kelas ini di minggu-minggu berikutnya.
Poin pertama adalah di kelas Pratama 3 dan 4 angkatan ini, sebaiknya jangan membawakan lagu pujian yang dikhususkan untuk anak-anak kecil. Alih-alih itu, ajak anak-anak untuk menyanyikan beberapa lagu umum yang telah akrab di telinga mereka.
Dengan gaya dan improvisasi yang menarik, saya dapat merasakan bahwa mereka tampak lebih menikmati pujian yang dipersembahkan kepada Tuhan Yesus :)
Poin kedua berbicara mengenai pembawaan Firman Tuhan.
Mengingat kini anak-anak tengah dimanjakan dengan berbagai alat hiburan yang mudah dan praktis untuk dibawa kemana-mana, terhitung sulit untuk menjauhkan mereka dari gadget mereka tersebut.
Seringkali mereka beralasan membawa gadget tersebut untuk kepraktisan dalam membuka nas Alkitab, namun kenyataannya seringkali mereka terjebak ke dalam pesona gadget tersebut yang akhirnya malah membuat mereka tidak lagi menujukan konsentrasi penuh mereka terhadap Firman Tuhan yang dibawakan oleh Kakak sekolah minggu mereka.
Melihat hal ini, satu-satunya cara yang dapat saya lakukan untuk merebut perhatian mereka adalah dengan mempersiapkan sesuatu yang menarik setiap minggunya agar mereka selalu menunggu-nunggu kejutan yang akan dibawakan dalam sesi Firman Tuhan.
Di minggu ketiga saya mencoba dengan membawakan Firman Tuhan melalui video yang saya sambungkan kepada proyektor dan menggunakan pengeras suara agar penglihatan dan pendengaran mereka tertuju pada Firman Tuhan. And guess what, thanks to the Lord, it really works! :D
Untuk pertama kalinya dalam tiga minggu mengajar di kelas itu, saya melihat hampir seluruh anak-anak Pratama 3 dan 4 yang jumlahnya hampir mencapai 30 orang itu tampak duduk diam dan serius mendengarkan Firman Tuhan tanpa gangguan, bahkan sampai akhir sesi :)
Sebetulnya metode pengajaran menggunakan video telah saya lakukan beberapa kali di kelas lain (tanpa pengeras suara karena dulu ruangan kami belum memiliki fasilitas tersebut). Seringkali juga saya selingi dengan menggunakan slide power point yang berupa gambar agar menjadi variasi di setiap minggunya. Namun mungkin karena ruangan yang lebih besar dan jumlah anak yang lebih banyak (karena kelas gabungan), hal ini membuat mereka kurang fokus ketika sesi Firman Tuhan dimulai.
Sebetulnya metode pengajaran menggunakan video telah saya lakukan beberapa kali di kelas lain (tanpa pengeras suara karena dulu ruangan kami belum memiliki fasilitas tersebut). Seringkali juga saya selingi dengan menggunakan slide power point yang berupa gambar agar menjadi variasi di setiap minggunya. Namun mungkin karena ruangan yang lebih besar dan jumlah anak yang lebih banyak (karena kelas gabungan), hal ini membuat mereka kurang fokus ketika sesi Firman Tuhan dimulai.
Melihat ini, membuat saya merasa semakin terpacu untuk mengembangkan kekreativitasan yang diberikan oleh Tuhan dalam mengaplikasikannya di sekolah minggu.
Saya memamg bukan orang yang kreatif yang mungkin ahli di bidang seni dan membuat berbagai hal menarik dengan kedua tangan mereka sendiri, tapi kalau untuk belajar menjadi sedikit lebih kreatif setiap minggunya, saya percaya yang harus saya lakukan "hanya" menyediakan waktu lebih dalam persiapan mengajar setiap minggunya. Inilah yang saya sebut dengan "membayar harga." :)
Untuk orang lain, mungkin hal ini dianggap berlebihan. Namun menurut saya pribadi, ketika kita melakukan sebuah pelayanan, itu bukan karena kuat gagah kita ataupun karena kemampuan dan kehebatan diri kita sendiri.
Pelayanan adalah sebuah bentuk cara bagaimana kita menunjukkan dan membalas sedikiiiiiiiiiiitttt (yang bahkan tidak sampai seujung jari) dari kasih dan berkat yang telah Tuhan berikan sepanjang hidup kita.
Karenanya, saya selalu teringat akan sebuah ayat dari Kolose 3:23 yang berbunyi,
"Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu serperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia."
Dan di akhir post ini, saya terbeban untuk menulis sebuah kalimat: "Jangan hitung-hitungan dengan Tuhan karena Tuhan tidak pernah hitung-hitungan dalam memberikan berkat, kasih, dan anugerah-Nya bagimu." :D

Komentar
Posting Komentar